Sejarah dan Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Peringatan Maulid Nabi Muhammad
Khusus untuk anda yang beragama Islam tentu sudah sering mendengar istilah Maulid Nabi atau peringatan perayaan Maulid nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi artinya hari kelahiran nabi. Peringatan Maulid Nabi artinya peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi Wasallam yang selanjutnya disebut mauludan.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad banyak dirayakan di masjid-masjid dan mushollah serta tempat-tempat tertentu lainnya dengan tujuan mengingat dan mengenal kembali sejarah hidup nabi Muhammad Saw dan seluruh ajaran al-Qur`an dan Sunnah yang dibawanya. Mengenal Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW, dan lainnya. Biasanya akan disampaikan oleh seorang penceramah atau lebih semacam tablik akbar.

Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Hingga saat ini masih dalam perdebatan di antara ulama tentang hukum mengadakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Ada yang membolehkan ada juga yang tidak membolehkan dan menganggapnya suatu kegiatan bid`ah.  Anda bisa membacanya di Hikmah dan Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Tentang Your Info

Just writing something
Pos ini dipublikasikan di Gaya Hidup Spiritual dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Sejarah dan Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

  1. abu nada berkata:

    Benarkah Sholahuddin Al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi shalallahu’alaihi wa sallam
    Oleh : Al-Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf
    Alkisah
    Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi.
    Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu `alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?
    Kedustaan Kisah Ini
    Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.
    Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.
    Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al `Ibda’ hal.126.
    Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]
    Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?
    Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its `Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya.
    Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.
    Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda.
    Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi `Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]
    Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.
    Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”
    Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”
    Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”
    Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]
    Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2]
    Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini. Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.
    Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya.
    Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.
    Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.
    Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.
    Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”
    Adz Dzahabi berkata: “Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”
    Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

    • H. Alex Solihin berkata:

      Alhamdulillah….. kebenaran hanyalah milik ALLOH. semoga apa yang saudaraku sampaikan itu benar adanya. saya termasuk manusia yang kurang sepakat adanya peringatan maulid, nisfu sya’ban, rebo kasan, 7 bulanan, haul bagi yg sudah meninggal, dan bid’ah-bid’ah lainnya. perayaan-perayaan lebih dekat dengan ketakaburan dan kemubaziran. semoga Alloh memberikan hidayahnya kepada manusia-manusia yang lebih mendahulukan sunnah daripada kewajibannya itu sendiri.

      • Info Siaran berkata:

        Alhamdulillah Barakallahu Untuk Pak Alex Sholihin, semoga Allah merahmati anda atas keyakinan anda bahwa kebenaran hanya milik Allah dan memang kebenaran itu Mutlak milik Allah.

        Saya hanya ingin bertanya kepada anda tentang alasan “Perayaan-perayaan lebih dekat dengan ketakabburan”. Yang ingin saya tanyakan kepada anda lantas bagaimana seandainya ada orang mengadakan perayaan Maulid Nabi tapi tidak takabbur dan tidak bermaksud dan sama sekali tidak melakukan hal yang mubazzir? Apakah anda akan berubah pikiran atau anda akan merubah alasan anda menolak pelaksanaan maulid Nabi…

        Kenapa saya tanyakan hal tersebut, sebab alasan anda di atas lebih mengarah kepada sifat atau karakter orang yang melaksanakannya bukan kepada Peringatan Maulid Nabinya itu sendiri.

        Sebagai contoh, seandainya ada banyak orang yang melakukan ibadah sholat karena Riya` apakah lantas anda mengharamkan ibadah sholat sebab banyak orang yang melakukan sholat tapi lebih dekat dengan Riya atau pamer. Padahal yang bermasalah bukan Ibadah Sholatnya, tapi orang yang melakukan ibadah sholat tersebut.

        Semoga Alloh tetap memberikan hidayahnya kepada manusia-manusia yang mau menjalankan perintah kewajiban dari Allah dan menghiasai hidupnya dengan ibadah-ibadah sunnah-Nya

    • Info Siaran berkata:

      Semoga info anda tentang Sejarah Maulid Nabi adalah kebenaran yang nyata dan bukan kesesatan yang nyata, mengingat kebanyakan sejarah dicatat tidak secara mutawatir seperti halnya al-Qur`an dan Sunnah Rasul yang shohih. Karenanya, mempercayai buku sejarah tidak sama seperti anda mengimani al-Qur`an dan Sunnah Rasul yang shohih

      Dalam bahasa lainnya, selain al-Qur`an dan Sunnah, maka kitab sejarah mana saja masih dalam bentuk kajian saintific para sejarahwan belaka, dan masih dimungkinkah hal tersebut terganggu secara subjektifitas opini dan tujuan tertentu dari penulis buku sejarah tersebut.

      Tentang istilah “KAFIR” hanya Allah yang maha tahu. Dalam konsep dasar fundamental Islam, selama dia bersyahadat maka dia adalah muslim. Apa arti bersyahadat tentu tidak akan cukup jika ditulis di sini. Walaupun banyak yang muslim tapi yang membedakan adalah kualitas imannya saja. Yang tidak beriman kepada Allah, itulah yang kafir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s